Minggu, 23 November 2014

Just share : Entrepreneurial Leadership Ahok Way

[Free] Premium Course : Entrepreneurial Leadership Ahok Way di Klik this UCEO_Ahok
Daftar kuliah Entrepreneurial Leadership Ahok Way dibimbing langsung oleh Bpk. Basuki Tjahaja Purnama, Gubernur DKI Jakarta. 
Kuliah ini gratis, dan semua materi diberikan secara online.
Kuliah ini telah dapat di ikuti dan telah dilaunching oleh Pak Ahok pada hari Jumat, 21 November 2014

‪#‎AhokWay‬ ‪#‎uceo‬ ‪#‎ciputra‬ ‪#‎ciputrauceo‬ ‪#‎startup‬ ‪#‎entrepreneurship‬‪#‎leadership‬ ‪#‎uc‬ ‪#‎ahok‬ ‪#‎btp‬


Kuliah ini berusaha untuk mengali dari cara kepemimpinan dari Bapak Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang juga memiliki unsur Enterprenuer. Disini kita semua dapat mempelajari tentang bagaimana caranya membangun kepercayaan publik. Selain itu kita juga dapat belajar akan prinsip-prinsip pememerinthaan untuk mewujudkan keadilan sosial dan pentingnya akan intergritas dalam pemerintahan dan kepemimpinan didalam menjalankan suatu organisasi. Tidak hanya itu kita juga mendapatakan inspirasi yang membantu kita dalam memberikan sebuah motivasi daan tantangan dalam masyarakat modern.

Belajar menjadi seorang pemimpin tidak hanya belajar dari orang lain namun kita juga bisa belajar bagaimana kita belajar memipin diri kita sendiri sebelum akhirnya kita memimpin akan orang lain. Di pembelajaran secara online ini tidak hanya Bapak Ahok yang akan membimbing tetapi juga dari Bapak Sen Sendijaya yang akan membagikan materi yang terkait tentang kepemimpinan yang efektif, konviksi, visi, intergritas dan akuntablitas.

Lalu kemudia akan ada juga Bapak Tony Antonio selaku Rektor dari Universitas Ciputra dan Bapak Antonius Tanan yang akan membagikan materi terkait dengan kepemimpinan dan intergritas di dunia bisnis serta bagaimana menentukan visi pribadi juga bagaimana melatih dan menumbuhkan kreatifitas dalam diri.

Selengkapnya silahkan juga buka di : Ciputra UCEO Campaign

Minggu, 28 September 2014

My trip is my adventure, learn for add to the knowledge (part II)

Terlepas dari kunjungan di Omah Dhuwur kami menyempatkan diri untuk pergi ke tempat pembuatan perak menjadi pernak-pernik layak pakai serta bisa menjadi accessories yang indah. Ditemani oleh 2 karyawan pak Irsyam, kami dituntun hingga sampai disini.


HS Silver

Hasil perak yang telah jadi

Ini salah satu proses pembuatan perak
More information : Hs silver
Kemudian dari HS Silver kami menuju ke tempat yang telah di nanti-nanti yaitu Coklat Monggo, it’s so yummy! ^_^


Inilah dapur pemubuatan coklat monggo

Produk Coklat Monggo

Dari Coklat Monggo kami menuju ke lokasi Makam Raja

Masjid bersejarah
Lalu dari Makam Raja-Raja Matarm, kami diajak lagi mengunjungi jajan pasar.
Dengan khas makananya yaitu ‘kipo’ yang artinya “iki opo”.


Dan ini jajanan pasar yang di jual Bu Supriyati


Setelah puas dengan perjalanan seharian sambil menimbah ilmu, kini tiba saatnya kami pun berbalik ke hotel untuk beristiharat dan bersiap menyambut hari esok. Esok hari adalah hari dimana akan ada 1 tempat kunjungan dan setelah itu adalah free time, namun sebelumnya kami semua breakfast terlebih dahulu sambil melihat indahnya suasana kota Yogyakarta dari lantai 5 rooftop Edu Hostel. Setelah makan pagi kami lalu berbalik ke kamar masing-masing dan bersiap untuk berangkat tidak lupa kami juga packing kembali barang-barang bawaan setiap dari kami, karena hari ini juga hari terakhir dari trip kami selama di Yogyakarta. Sangat menyenangkan sekali bisa menikmati indahnya kota Yogyakarta yang masih serba asri, meski hanya 3 hari 2 malam tetapi rasa ingin tahu itu tetap ada.
Kami pun lalu berangkat menuju Sekolah Alam. Ini ada sekilas Profil Bu Wahya di Tupperware SheCAN!
Part 1. 
Tupperware SheCAN! - Sri Wahyuningsih Part 1
Part 2. 
Tupperware SheCAN! - Sri Wahyuningsih Part 2
Sekolah Alam pada tahun 2008 menjadi sekolah yang mandiri dan pada saat itu kelas yang dibuka baru kelas SD, kemudia pada tahun 2010 baru dibuka lah kelas untuk tingkat SMP. Visi dan misi dari Sekolah Alam ini yang di bangun oleh ibu Sri Wahyanisi yaitu pangan, sosial, budaya, kampaye, memproduksi hasil alam dan kesehatan. Yang paling penting ialah lebih mengutamakan kepada pendidikan yang lebih alamiah.
Ibu Sri Wahyanisi ini telah memiliki impan membuka sekolah sejak Ia masih duduk dibangku kuliah. Berawal pada saat iya menjadi pendamping masyarakat dengan melakukan kegiatan sosial, dan bertemu orang-orang baru dari sini Beliau melihat ada resource dan SDA yang ternyata masih bisa dikembangkan. Lalu kemudian Ia pun melakukan riset untuk mencari tahu apa yang sebenranya menyebabkan terjadinya masalah sosial, dari hasil tersebut ternyata yang ditemukan adalah kurangnya pendidikan dan kemiskinan menjadi faktor utama.
Pada tahun 1998 berdirilah Salam atau Sekolah Sangar Alam dengan jumlah murid 15 anak yang mau ikut. Namun dalam beberapa hari kemudian Salam bisa mengumpulkan 120 anak dengan 28 faslilitator. Ibu Sri Wahyanisi ini dalam membangun Salam ini juga telah mendapatkan banyak tantangan, tetapi dengan semangat dan pantang menyerah Ia bisa mencoba merubah mind-set setiap orang tua murid bahkan orang-orang yang sempat menolak dia dalam mendirikan sekolah alam ini.
Salam membuat kurikulum dibentuk sesuai usia mereka. Kegiatan yang dilakukan salah satunya yaitu memberi makan kambing juga menyelengarakan kegiatan kesehatan dengan gratis. Sangat luar biasa Sekolah Alam ini, karena dari mengajarkan anak-anak membuat pizza itu dijual dan hingga kini telah mencapai Rp 1.000.000,-/bulan. Selama 25 tahun Salam mendapat banyak inspirasi sehingga bisa memiliki usaha sendiri dan menggerakan ekonomi kerakyatan dengan rencana 30-40/hari.
Pada rencana kedepan Salam berencana akan membuka Resto. Dengan adanya Sekolah Alam ini orang tua juga mensupport dan juga membantu untuk memfaslilitasi dalam 3 bulan sekali. Disini anak-anak juga diajarkan untuk membuka pasar bukan menjadi bank sampah. Selain itu juga mereka diajarkan tentang komposisi pada makanan. Sekolah alam ini mengratiskan bagi mereka yang kurang mampu dan bagi mereka yang mampu harus membayar dengan biaya yang di berikan.

Sekolah Sangar Alam


Sabtu, 27 September 2014

My trip is my adventure, learn for add to the knowledge (part I)

Pada kesempatan kali ini kami dari kelas Enterprenuer Sosial diajak oleh fasilitator pergi ke Yogyakarta dengan tujuan kami bisa belajar lebih banyak lagi tentang Social Venture dan melakukan Branch Marking. Lokasi pertama yang kami kunjung setelah sampai di Yogyakarta yaitu Yayasan Penyandang Cacat Mandiri.
Yayasan Penyandang Cacat Mandiri berdiri pada tanggal 3 Sept 2007. Yayasan ini didirikan oleh 3 orang yaitu Dr. Andu Sufyan, Ir. Robertus Ignatius dan Eko. Yayasan Penyandang cacat adalah pusat rehabilitas Yakkum dengan tujuan dibidang sosial dan ekonomi, kemanusiaan dan keagamaan. Mewujudkan kesejahteraan hidup penyandang distabilitas inklusifitas masyarakat Indonesia dan meningkatkan kemandirian.
Yayasan Penyandang Cacat Mandiri (YPCM) ini di ketuai oleh pak Joko Purwadi kelahiran 1955. YPCM ini memiliki kegiatan  yaitu memberikan lapangan kerja dan penghasilan bagi penyandang distabilitas. Kegiatan utama yang dilakukan yaitu memproduksi barang kerajinan menghasilkan keuntungan bagi para penyandang cacat sehingga mereka memperoleh kehidupannya. Dari barang-barang yang dibuat, lalu di eksport ke luar negri seperti Hongkong dan China. Mereka meng-eksport melalui pihak ke-3 dan mereka juga menamai sebagai “karya cipta mandiri”.


Tempat proses pembuatan kerajinan tangan
Kerajinan tangan YPCM
Para pemnbuat kerajinan
Kita hidup dari apa yang kita peroleh, namun kita memperoleh kehidupan dari apa yang kita beri. Dari quote ini marilah kita belajar bahwa kita boleh mendapatkan apa saja yang diberikan dari kehidupan kita, namun tidak kah kita berpikir bahwa jika kita cuma sekedar mendapatkan dan itu hanya untuk diri kita sendiri bagaimana dengan orang lain? Kita boleh saja mendapatkan apa yang ada dari hidup ini, namun cobalah untuk membagikan sebagian dari apa kita punya. Karena hidup ini tidak akan indah jika kita tidak bisa memberi.

Menjadi seorang yang memiliki jiwa sosial memang tidaklah muda, tetapi jika kita dapat peka terhadap sekitar kita maka dari situlah bisa jadi rasa kepedulian kita muncul. Ini saya melihat dan belajar kembali, bahwa apa yang bisa saya berikan dari hidup saya untuk orang lain. Mereka yang cacat saja bisa memberi serta memiliki kemauan untuk bisa bertahan dan maju demi mewujudkan apa yang menjadi masa depan mereka. Bagi saya ini bisa menjadi inspirasi untuk mendorong saya dalam mewujudkan impan saya. YPCM ini sendiri telah membantu para penyandang cacat usia produktif  yang berasal dari keluarga miskin. Disini saya melihat nilai sosial yang ada pada YPCM, nilai sosial yang diberikan yaitu mereka membantu para penyandang cacat dengan memberikan keterampilan kerajinan tangan yang juga memberikan nilai dan kebanggaan atas hasil karya sendiri.

Foto bersama salah seorang penyandang cacat
Itulah sekilas tentang kunjungan ke Yayasan Penyandang Cacat Mandiri (YPCM).

Setelah tadi bercerita tentang kunjungan di YPCM, kini saatnya saya akan bercerita tentang kunjungan ke Batik Tulis Sri Kuncoro.

Lokasi Sri Kuncoro
Batik Sri Kuncoro ini adalah batik yang mengambil nama kampung di selatan Yogyakarta yang terkenal sebagai sentra pengrajin batik tulis, khas Kraton Mataram. Sri Kuncoro ini telah memulai usaha batik ini pada tahun 2008 dengan menggunakan pewarnaan alam dari daun, buah sebgai motif alam yang digunkan untuk pewarnaan.Motif batik juga diwarnai dengan pewarna sintetis. Ibu Imaroh adalah ketua dari batik Sri Kuncoro ini.

Disini saya dapat melihat keunggulan nilai seni serta mengandung serajah, tidak hanya itu mereka juga saling menghargai pekerjaan pembatik. Untuk membuat batik tulis harus pelan-pelan serta dibuthkan juga kesabaran dan ketelitian yang baik. Batik tulis berbeda dengan batik printing, batik printing warnanya tidak tembus dan hasilnya rapi sedangkan batik tulis tidak terlalu rapi, tetapi batik tulis terlihat lebih berkesan karena semakin dipandang semakin anggun, bagus dan tidak bosan.

Selain itu dari harganya juga jauh. Batik printing bisa didapatkan seharga Rp 40.000,- sedangkan batik tulis bisa mencapai Rp 500.000,- lebih. Meski motif bisa telihat sama namun pembuatan batik tulis dan pewarnaannya dapat memkan waktu lama dan juga pewarnaan tersebut menggunkana pewarnaan yang alami.

Untuk motif klasik ada ratusan. Yang sering kita kerjakan sekitar 30 motif, terutama, sido asih, sido mukti, sekar jagad, wahyu tumurun, sri kuncoro, dan lainnya. Dan setiap motifny mengandung arti serjarah. Mulai dari desainya banyak mengandung makna filosofis. Salah satunya adalah motif sido asih biasanya dipakai saat lamaran pernikahan, agar saling mengasihi. Dari sini saya juga melihat dan mengambil sebuah pembelajaran yaitu sangat dibutuhkan nilai kesabaran dan ketelatenan. Membatik membutuhkan kesabaran tinggi, butuh waktu panjang, karena harus pelan-pelan, hati-hati dan sangat teliti.

Beberapa ibu-ibu yang ikut serta dalam membuat batik
Motif-motif batik
Yang merintis dan mengumpulkan perempuan-perempuan Indonesia, yang mengenakkan hijab orange. Inilah suasana pada waktu workshop oleh ibu Iromah.


Masih pada hari yang sama tepatnya pada tanggal 23 Sept 2014. Setelah kami dari Sri Kuncoro tempat pembuatan batik tulis dengan pewarnaan alam, kami pun beranjak menuju Omah Dhuwur.

Omah Dhuwur (Rumah Tinggi) yang terletak didataran yang agak tinggi, dengan slogan “The Unique and Heritage Place to Dine Out”. Omah Dhuwur ini memiliki campuran unsur etnik tradisional dengan peninggalan jaman kolonial serta kemewahan yang ditawarkan dalam sajian makanan merupakan kombinasi antara resep tradisonal dengan bahan-bahan impor dari negara lain serta minuman yang tradisional. Omah Dhuwur juga terkenal dengan suasana yang memiliki perpaduan dua budaya.
Irsyam Sigit Wibowo adalah owner dari Omah Dhuwur, beliau memulai usaha ini sejak tahun 2000. Beliau mempunyai hobby di bidang otomotif dan telah memiliki komuniatas yaitu JAC (Jogja Automotive Community) disamping itu beliau juga berprofesi PHRI, Asmindo, BP2KY. Usaha yang dibangun oleh pak Irsyam telah banyak yang berjalan dan berkembang, tidak hanya usaha Omah Dhuwur Resto tetapi juga Pendopo nDalem Resto, Warung angkringan JAC dan Warung pendopo nDe’Luweh.
Pak Irsyam juga membangun sebuah warung binaan diantaranya yaitu Warung Pondok Sundak dan Kedai/ rumah produksi kopi menoreh “pak Rohmat”. Dari semua usaha yang dilakukan pak Irsyam karena Beliau melihat bahwa belum ada pesaing dan mudah didapat. Beliau membangun bisnis dibidang kuliner secara tradisonal dengan modal minim, Ia juga memberitahukan bahwa apapun yang menjadi usaha yang dilakukan, lakukanlah dengan passion. Mengapa Beliau mau membuka dibidang kuliner secara tradisonal? Karena Ia yakin bahwa wisatawan datang untuk mencari apa yang menjadi khas kota tersebut, maka dari itu Beliau melihat ini bisa menjadi peluang bisnis yang baik dengan memanfaatkan peluang bisnis yang ada ini akhirnya Beliau bisa membuka usaha dibidang kuliner.
Bagaimana caranya pak Irsyam bisa menjualkan makanan dan minumannya secara tradisional? Yang pertama Ia membuat taste sendiri, lalu kemudian membuat market yang lebih spesifik. Usaha ini juga bisa berkembang karena Ia membuka warung binaan (sosial) dengan mengambil warga dari Indrayati. Perkembangan kuliner Beliau telah mencapai taraf Internasional yang disebut dengan “kampung plapasar” serta mendapatkan pemberdiyaan kepada masyarakat.

Foto bersama dengan Pak Irsyam

Senin, 22 September 2014

Kisah dibalik kisah

Hai guys, pada kesempatan ini saya ingin bercerita tentang "kisah dibalik kisah". Maksud-nya apa yaa? Kisah kok dibalik-balik? Haha.. Ini lho maksudnya.. Hari lalu tepatnya hari rabu pada saat kelas Enterprenuer Social kami pada hari itu harus mengumpulkan tugas serta menceritakan progress dari project atau usaha yang kami jalankan. Pak Nur selaku dosen faslitator kami di Esos mulai men-sharing kan lebih luas mengenai Sosial Enterprenuer, lalu setelah mendengar kan apa yang di sharingkan kami diharapkan bisa memiliki mind-set yang jauh lebih berbeda dari sebelumnya.

Lalu kemudian pak Nur pun membagikan kepada kami buku dan tiap-tiap anak mendapatkan buku yang berbeda-beda. Jujur aku sendiri sebenarnya tidak suka membaca buku apa lagi buku yang bagikan itu isinya tidak ada gambar sama sekali persis seperti membaca sebuah novel yang hanya berisi kan tulisan serta bab-bab yang menurut ku itu sangat membosankan ketika dibaca. Sebelum-nya aku juga melihat ada beberapa kaset DVD yang sempat diperlihatkan juga oleh pak Nur dan aku pun langsung bertanya : "pak apa boleh buku yang bapak suruh baca ini aku ganti dengan DVD? Karena aku lebih suka menonton daripada membaca buku ini." Tetapi pak Nur menjawab : "DVD ini tidak untuk di nonton, kamu baca dan mencoba mengambil kesimpulan dari buku yang saya sudah bagikan apa yang kamu bisa dapatkan dari buku tersebut". Aku akhirnya pun mencoba dan mau tidak mau harus baca buku itu, aku juga berpikir mau sampai kapan aku tidak belajar untuk membaca sesuatu yang bisa bermanfaat.

Dan ini lah buku yang dipinjam kan oleh pak Nur untuk dibaca, buku ini berjudul "Pertengkaran dan kisah-kisah lain. -Nikolai Gogol-" Sekilas sedikit sinopsis dari buku ini menceritakan tentang dua orang sahabat yang sangat amat akrab hingga suatu hari mereka memulai sebuah perdebatan yang konyol kemudian memuncak pada sebuah makian yang paling kasar. Lalu sejak saat itu tak ada lagi sepatah kata pun yang terucap antara mereka satu sama lain. Dari membaca buku tersebut saya mencoba mengambil kesimpulan bahwa jangan biarkan cerita dan pengalaman orang lain menjadi penyebab kita tidak melakukan mamogram. Kita juga harus bisa membuat sebuah reformasi baru jika kita ingin masa depan kita maju terus. Cerita yang sangat inspiratif bahwa ketika terjadi perangan ternyata semua itu bisa di hadapi dan dengan kemauan serta usaha maka kita bisa membuat pertengkaran itu menjadi damai. Kuncinya adalah jangan pernah lari dari masalah, cobalah untuk berbicara jika merasa salah tetapi jika sudah tidak bisa di perbaiki secara baik-baik maka intropeksi dirilah terlebih dahulu lalu kemudian lihat laa kondisi, jika memungkin kan cobalah untuk menyelesaikan-nya dengan baik-baik. Memaafkan juga sangat utama namun sulit untuk dilakukan, tetapi jika kita mau membuka diri dan berusaha maka apa yang sulit akan menjadi mudah.

Ini sekilas cerita perjalanan Gogol : Nicolai Vasilyevich Gogol

Senin, 08 September 2014

Perkuliahan di luar kelas

Perkuliahan di luar kelas ini sangat menyengkan bagi saya, karena saya merasa bisa mendapatkan pembelajaran lebih selain di dalam kelas. Pada kuliah kali ini di E-sosial, kami sekelas di ajak untuk berkunjung ke pusdakota di ubaya. Pusdakota sendiri adalah Pusat Pemberdayaan Komunitas Perkotaan yang berbasis gerakan nilai dengan karakter utama otonom, nirlaba, puralis dengan tujuan bertumbuhnya agen-agen pemberdayaan demi peningkatan mutu kehidupan. For more information : Office Pusdakota

Selama pembelajaran di pusdakota kami dan juga saya sendiri banyak mendapat pembelajaran baru. Di pusdakota memliki prinsip walaupun di bawa naungan pihak kampus UBAYA namun pusdakota tetap akan berdiri mandiri tanpa bergantung pada orang lain. Di pusdakota sendiri pun melakukan usaha dengan mengelolah sampah menjadi barang yang bisa dijual, selain itu juga menjadi pengajar dan membuka taman baca bagi anak sampai mahasiswa. Mereka juga mampu menyekolahkan dan berencana kedepan untuk membuat unit koperasi serta memberikan layanan yang lebih fleksibel.


Ini adalah pembelajaran, pemberian serta penyampaian materi dengan bu Layla salah satu orang yang bekerja di Pusdakota.


Ini adalah prototype yang buat lakukan oleh Pusdakota. Prototype yang mengambarkan siklus pengelolahan sampah pada dapur rumah.

Pusdakota memiliki 4 program yang mempunyai bidang yang dapat kembangkan sesuai visi dan misi serta tujuan, yaitu :
1. Bidang sosial
2. Bidang lingkungan
3. Bidang ekonomi
4. Perpustakan komunitas

Di sini saya melihat Pusdakota ini merupakan salah satu contoh Enterprenuer Sosial karena tidak hanya bisa memberikan profit kepada orang lain namun memberikan profit bagi pusdakota. Meskipun pernah gagal beberapa kali namun mereka tidak pernah menyerah, bangkit dan berjuang serta niat sosial yang tinggi mereka terus maju untuk mengembangkan Pusdakota, tidak berhenti sampai disitu mereka pun membuka secara umum bagi orang-orang dari kalangan mana saja yang memliki visi yang sama serta jiwa sosial untuk mau bergabung di dalam pengembangan Pusdakota.

Jumat, 29 Agustus 2014

Kelas E-sosial (E-sos)

Welcome,

Ini pertama kalinya aku mecoba mengambil kelas e-sosial di UC. Mengapa aku mau masuk kelas e-sos? Itu karena aku ingin mempelajari seputar sosial entreprenuer. Tujuan utama Sosial Entrepreneurship adalah mampu menciptakan sistem perubahan yang berkelanjutan, inovasi dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat serta adanya perubahan sistem sosial masyarakat. Di sini pada pertemuan pertama kami mulai diberikan tugas masing-masing membuat Bussines Model Canvas (BMC) dari orang-orang yang yang memiliki bisnis pada koran yang kami baca. Tidak sampai disitu saja, selama kelas berlangsung kami juga mendapatkan mentoring dari para fasilitator, kami di bimibing dan diarah kan kepada apa yang akan menjadi usaha kami serta mulai membuat perencanaan untuk kelanjutan bisnis yang dijalani. Tahap demi tahap saya juga mencoba untuk melakukan apa yang menjadi saran dari faslitator, di E5 ini juga saya melihat dengan adanya pembaruan kurikulum kini kami di berikan pembelajaran tidak hanya di kelas saja namun juga secara online. Banyak contoh di Indonesia para pewirausaha sosial ini, Salah satu contohnya adalah Masril Koto, yang mendirikan bank khusus petani di Sumatera Barat. Dengan pemberdayaan yang dilakukan oleh Masril Koto, banyak petani yang tadinya malas bertani karena banyaknya kendala seperti modal, pemasaran, saat ini mereka dapat menjadi petani yang dapat menghasilkan. Masril Koto saat ini mempunyai asset 250Milyar rupiah dengan karyawan 1500 orang. Ciri-ciri pewirausaha sosial adalah mereka mau berkorban, segera bertindak jika ada permasalahan sosial di lingkungannya, memiliki sikap praktis, innovative, tekadnya kuat, berani ambil resiko, melakukan perubahan social, berbagi keberhasilan dan yang terpenting mereka mau mengevaluasi diri sendiri.