Sabtu, 27 September 2014

My trip is my adventure, learn for add to the knowledge (part I)

Pada kesempatan kali ini kami dari kelas Enterprenuer Sosial diajak oleh fasilitator pergi ke Yogyakarta dengan tujuan kami bisa belajar lebih banyak lagi tentang Social Venture dan melakukan Branch Marking. Lokasi pertama yang kami kunjung setelah sampai di Yogyakarta yaitu Yayasan Penyandang Cacat Mandiri.
Yayasan Penyandang Cacat Mandiri berdiri pada tanggal 3 Sept 2007. Yayasan ini didirikan oleh 3 orang yaitu Dr. Andu Sufyan, Ir. Robertus Ignatius dan Eko. Yayasan Penyandang cacat adalah pusat rehabilitas Yakkum dengan tujuan dibidang sosial dan ekonomi, kemanusiaan dan keagamaan. Mewujudkan kesejahteraan hidup penyandang distabilitas inklusifitas masyarakat Indonesia dan meningkatkan kemandirian.
Yayasan Penyandang Cacat Mandiri (YPCM) ini di ketuai oleh pak Joko Purwadi kelahiran 1955. YPCM ini memiliki kegiatan  yaitu memberikan lapangan kerja dan penghasilan bagi penyandang distabilitas. Kegiatan utama yang dilakukan yaitu memproduksi barang kerajinan menghasilkan keuntungan bagi para penyandang cacat sehingga mereka memperoleh kehidupannya. Dari barang-barang yang dibuat, lalu di eksport ke luar negri seperti Hongkong dan China. Mereka meng-eksport melalui pihak ke-3 dan mereka juga menamai sebagai “karya cipta mandiri”.


Tempat proses pembuatan kerajinan tangan
Kerajinan tangan YPCM
Para pemnbuat kerajinan
Kita hidup dari apa yang kita peroleh, namun kita memperoleh kehidupan dari apa yang kita beri. Dari quote ini marilah kita belajar bahwa kita boleh mendapatkan apa saja yang diberikan dari kehidupan kita, namun tidak kah kita berpikir bahwa jika kita cuma sekedar mendapatkan dan itu hanya untuk diri kita sendiri bagaimana dengan orang lain? Kita boleh saja mendapatkan apa yang ada dari hidup ini, namun cobalah untuk membagikan sebagian dari apa kita punya. Karena hidup ini tidak akan indah jika kita tidak bisa memberi.

Menjadi seorang yang memiliki jiwa sosial memang tidaklah muda, tetapi jika kita dapat peka terhadap sekitar kita maka dari situlah bisa jadi rasa kepedulian kita muncul. Ini saya melihat dan belajar kembali, bahwa apa yang bisa saya berikan dari hidup saya untuk orang lain. Mereka yang cacat saja bisa memberi serta memiliki kemauan untuk bisa bertahan dan maju demi mewujudkan apa yang menjadi masa depan mereka. Bagi saya ini bisa menjadi inspirasi untuk mendorong saya dalam mewujudkan impan saya. YPCM ini sendiri telah membantu para penyandang cacat usia produktif  yang berasal dari keluarga miskin. Disini saya melihat nilai sosial yang ada pada YPCM, nilai sosial yang diberikan yaitu mereka membantu para penyandang cacat dengan memberikan keterampilan kerajinan tangan yang juga memberikan nilai dan kebanggaan atas hasil karya sendiri.

Foto bersama salah seorang penyandang cacat
Itulah sekilas tentang kunjungan ke Yayasan Penyandang Cacat Mandiri (YPCM).

Setelah tadi bercerita tentang kunjungan di YPCM, kini saatnya saya akan bercerita tentang kunjungan ke Batik Tulis Sri Kuncoro.

Lokasi Sri Kuncoro
Batik Sri Kuncoro ini adalah batik yang mengambil nama kampung di selatan Yogyakarta yang terkenal sebagai sentra pengrajin batik tulis, khas Kraton Mataram. Sri Kuncoro ini telah memulai usaha batik ini pada tahun 2008 dengan menggunakan pewarnaan alam dari daun, buah sebgai motif alam yang digunkan untuk pewarnaan.Motif batik juga diwarnai dengan pewarna sintetis. Ibu Imaroh adalah ketua dari batik Sri Kuncoro ini.

Disini saya dapat melihat keunggulan nilai seni serta mengandung serajah, tidak hanya itu mereka juga saling menghargai pekerjaan pembatik. Untuk membuat batik tulis harus pelan-pelan serta dibuthkan juga kesabaran dan ketelitian yang baik. Batik tulis berbeda dengan batik printing, batik printing warnanya tidak tembus dan hasilnya rapi sedangkan batik tulis tidak terlalu rapi, tetapi batik tulis terlihat lebih berkesan karena semakin dipandang semakin anggun, bagus dan tidak bosan.

Selain itu dari harganya juga jauh. Batik printing bisa didapatkan seharga Rp 40.000,- sedangkan batik tulis bisa mencapai Rp 500.000,- lebih. Meski motif bisa telihat sama namun pembuatan batik tulis dan pewarnaannya dapat memkan waktu lama dan juga pewarnaan tersebut menggunkana pewarnaan yang alami.

Untuk motif klasik ada ratusan. Yang sering kita kerjakan sekitar 30 motif, terutama, sido asih, sido mukti, sekar jagad, wahyu tumurun, sri kuncoro, dan lainnya. Dan setiap motifny mengandung arti serjarah. Mulai dari desainya banyak mengandung makna filosofis. Salah satunya adalah motif sido asih biasanya dipakai saat lamaran pernikahan, agar saling mengasihi. Dari sini saya juga melihat dan mengambil sebuah pembelajaran yaitu sangat dibutuhkan nilai kesabaran dan ketelatenan. Membatik membutuhkan kesabaran tinggi, butuh waktu panjang, karena harus pelan-pelan, hati-hati dan sangat teliti.

Beberapa ibu-ibu yang ikut serta dalam membuat batik
Motif-motif batik
Yang merintis dan mengumpulkan perempuan-perempuan Indonesia, yang mengenakkan hijab orange. Inilah suasana pada waktu workshop oleh ibu Iromah.


Masih pada hari yang sama tepatnya pada tanggal 23 Sept 2014. Setelah kami dari Sri Kuncoro tempat pembuatan batik tulis dengan pewarnaan alam, kami pun beranjak menuju Omah Dhuwur.

Omah Dhuwur (Rumah Tinggi) yang terletak didataran yang agak tinggi, dengan slogan “The Unique and Heritage Place to Dine Out”. Omah Dhuwur ini memiliki campuran unsur etnik tradisional dengan peninggalan jaman kolonial serta kemewahan yang ditawarkan dalam sajian makanan merupakan kombinasi antara resep tradisonal dengan bahan-bahan impor dari negara lain serta minuman yang tradisional. Omah Dhuwur juga terkenal dengan suasana yang memiliki perpaduan dua budaya.
Irsyam Sigit Wibowo adalah owner dari Omah Dhuwur, beliau memulai usaha ini sejak tahun 2000. Beliau mempunyai hobby di bidang otomotif dan telah memiliki komuniatas yaitu JAC (Jogja Automotive Community) disamping itu beliau juga berprofesi PHRI, Asmindo, BP2KY. Usaha yang dibangun oleh pak Irsyam telah banyak yang berjalan dan berkembang, tidak hanya usaha Omah Dhuwur Resto tetapi juga Pendopo nDalem Resto, Warung angkringan JAC dan Warung pendopo nDe’Luweh.
Pak Irsyam juga membangun sebuah warung binaan diantaranya yaitu Warung Pondok Sundak dan Kedai/ rumah produksi kopi menoreh “pak Rohmat”. Dari semua usaha yang dilakukan pak Irsyam karena Beliau melihat bahwa belum ada pesaing dan mudah didapat. Beliau membangun bisnis dibidang kuliner secara tradisonal dengan modal minim, Ia juga memberitahukan bahwa apapun yang menjadi usaha yang dilakukan, lakukanlah dengan passion. Mengapa Beliau mau membuka dibidang kuliner secara tradisonal? Karena Ia yakin bahwa wisatawan datang untuk mencari apa yang menjadi khas kota tersebut, maka dari itu Beliau melihat ini bisa menjadi peluang bisnis yang baik dengan memanfaatkan peluang bisnis yang ada ini akhirnya Beliau bisa membuka usaha dibidang kuliner.
Bagaimana caranya pak Irsyam bisa menjualkan makanan dan minumannya secara tradisional? Yang pertama Ia membuat taste sendiri, lalu kemudian membuat market yang lebih spesifik. Usaha ini juga bisa berkembang karena Ia membuka warung binaan (sosial) dengan mengambil warga dari Indrayati. Perkembangan kuliner Beliau telah mencapai taraf Internasional yang disebut dengan “kampung plapasar” serta mendapatkan pemberdiyaan kepada masyarakat.

Foto bersama dengan Pak Irsyam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar